Latar Belakang
Perkembangan teknologi digital menuntut guru untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensi profesional. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada penguatan keterampilan berpikir abad ke-21. Berangkat dari kebutuhan tersebut, guru perlu mengambil peran aktif sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Tujuan Praktik Baik
Praktik baik ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penerapan berpikir komputasional, koding, dan kecerdasan artifisial (KA), serta menumbuhkan minat belajar, kreativitas, dan kesadaran etis peserta didik dalam memanfaatkan teknologi.
Pelaksanaan Praktik Baik
Bapak Muhammad Hasyim, S.Ag, Gr., Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP Negeri 9 Samarinda, mengikuti Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) di Lokus 1 SMP Samarinda. Materi pelatihan bersifat aplikatif dan relevan, sehingga dapat langsung diterapkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
Pembelajaran Koding dan KA diposisikan sebagai pelengkap mata pelajaran Informatika, bukan sebagai pengganti. Implementasi dilakukan secara fleksibel melalui pendekatan plugged (menggunakan perangkat) dan unplugged (tanpa perangkat), sehingga dapat diterapkan oleh guru tanpa bergantung pada kelengkapan sarana.
Melalui kegiatan On the Job Training, pembelajaran berpikir komputasional, koding, serta pengenalan isu deepfake diterapkan pada peserta didik kelas VIII. Peserta didik menunjukkan antusiasme tinggi, aktif bertanya, dan tertarik untuk mengikuti pembelajaran lanjutan.
Selain itu, praktik baik ini diperluas melalui kegiatan In House Training (IHT) bagi guru lintas mata pelajaran. Pembuatan chatbot berbasis kecerdasan artifisial menggunakan aplikasi Pictoblox menjadi sarana awal bagi guru untuk mengenal dan memanfaatkan AI dalam pembelajaran.
Dampak dan Hasil
Praktik ini memberikan dampak positif berupa meningkatnya motivasi belajar peserta didik, terbukanya wawasan guru terhadap pemanfaatan teknologi, serta tumbuhnya budaya belajar dan berbagi di lingkungan sekolah. Bapak Hasyim juga juga mulai mengembangkan aplikasi sederhana, seperti absensi digital dan aplikasi pendukung Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dengan memanfaatkan kecerdasan artifisial.
Dukungan dan Tindak Lanjut
Kepala SMP Negeri 9 Samarinda memberikan dukungan penuh terhadap upaya pengembangan kompetensi guru dan inovasi pembelajaran. Ke depan, sekolah berharap adanya dukungan berkelanjutan berupa pelatihan lanjutan, penyediaan buku ajar, perangkat komputer, serta perangkat robotik agar pembelajaran Koding dan KA dapat berjalan lebih optimal.
Refleksi
Pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial tidak hanya berfokus pada penguasaan teknologi, tetapi menjadi sarana bagi guru untuk terus bertumbuh, menjaga relevansi sekolah, dan mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan secara bijak dan bertanggung jawab.
